Dimudahin.com – Media sosial terutama TikTok bisa dibilang jadi “pabrik” kata-kata baru. Dalam hitungan hari, istilah yang awalnya cuma dipakai segelintir orang bisa menyebar ke mana-mana, lalu masuk ke obrolan sehari-hari. Salah satu yang sempat ramai diperbincangkan di kalangan Gen Z adalah istilah “mokondo” dan “tobrut”.
Meski sering muncul di komentar atau video lucu, dua istilah ini bukan sekadar “bahasa gaul” biasa. Ada konteks yang sensitif, ada potensi merendahkan orang lain, dan ada risiko memicu body shaming. Karena itu, penting untuk memahami maknanya dengan kepala dingin—bukan ikut-ikutan menyebarkan tanpa tahu dampaknya.
Apa Itu “Mokondo”?
Di berbagai konten TikTok, kata “mokondo” kerap digunakan untuk menyindir tipe laki-laki yang dianggap tidak berkontribusi dalam hubungan—misalnya tidak bekerja, tidak bertanggung jawab secara finansial, tetapi menuntut banyak hal dari pasangan. Istilah ini biasanya muncul sebagai bahan candaan, sindiran, atau curhatan pengalaman warganet.
Intinya, “mokondo” dipakai sebagai label negatif untuk menggambarkan seseorang yang dinilai “modalnya minim” dalam hubungan, namun tetap banyak maunya.
Apa Itu “Tobrut”?
Berbeda dengan “mokondo” yang konteksnya soal relasi dan tanggung jawab, istilah “tobrut” beririsan dengan cara warganet membahas tubuh perempuan secara tidak pantas. Istilah ini sering dipakai sebagai komentar yang mengarah pada bagian tubuh tertentu, lalu dijadikan lelucon atau “bahan omongan” di video.
Masalahnya, cara penggunaan “tobrut” kerap menjurus ke seksualisasi dan objektifikasi. Ini bukan sekadar candaan—bisa membuat orang merasa direndahkan, tidak nyaman, dan jadi sasaran body shaming.
Kenapa Dua Istilah Ini Bisa Viral?
Konten TikTok punya pola yang mirip: potongan video singkat, caption yang “nendang”, lalu komentar yang berantai. Ketika satu istilah dianggap lucu atau “relate”, pengguna lain ikut memakai agar videonya terasa lebih kekinian. Dari situlah sebuah kata bisa meledak.
Dalam tulisan yang membahas tren ini, penggunaan “mokondo” dan “tobrut” disebut meningkat tajam dalam beberapa bulan (disebutkan bahkan tembus ratusan persen). Lonjakan ini juga didorong oleh banyaknya konten yang mengemas istilah tersebut sebagai candaan dan pengalaman sehari-hari.
Masalah Utamanya: Istilahnya Berpotensi Merugikan
Walau sering dipakai untuk hiburan, ada beberapa catatan penting:
- Labeling dan merendahkan: menyematkan label negatif ke orang lain bisa memicu perundungan, apalagi jika dilakukan massal di kolom komentar.
- Body shaming: istilah yang menyinggung tubuh bisa melukai, memalukan, dan memperpanjang budaya komentar negatif terhadap penampilan.
- Normalisasi bahasa kasar: kalau kebiasaan ini dibiarkan, batas antara “candaan” dan “pelecehan” bisa makin kabur.
Sederhananya: viral tidak selalu berarti pantas ditiru.
Dampak ke Cara Berbahasa: Gaul vs Formal
Bahasa gaul itu wajar—setiap generasi punya istilah khas. Namun ketika istilah yang sensitif makin sering dipakai, ada kekhawatiran kemampuan berbahasa yang baik dan tepat di konteks formal ikut terdorong ke pinggir.
Beberapa pendidik juga menekankan pentingnya tetap membiasakan bahasa yang sopan dan jelas, terutama untuk lingkungan akademis dan profesional. TikTok boleh jadi ruang ekspresi, tapi dunia nyata tetap membutuhkan komunikasi yang tertata.
Tips Bijak: Tetap “Update”, Tapi Nggak Ikut Merendahkan
Kalau kamu sering main TikTok dan ketemu istilah seperti ini, coba pegang prinsip sederhana berikut:
- Jangan ikut menyebarkan kalau konteksnya merendahkan — apalagi untuk komentar ke orang yang tidak kamu kenal.
- Hindari menjadikan tubuh orang sebagai bahan lelucon — konten bisa hilang, tapi luka di orangnya bisa tinggal lama.
- Pakai bahasa yang aman — kalau mau kritik perilaku seseorang, fokus ke tindakannya, bukan menghina identitas atau fisiknya.
- Laporkan atau batasi interaksi — kalau kamu melihat komentar yang menjurus pelecehan, gunakan fitur report/block.
Tren “mokondo” dan “tobrut” menunjukkan betapa cepatnya bahasa berkembang di era digital—terutama di TikTok. Namun di balik viralnya sebuah istilah, kita tetap perlu melihat dampaknya. Jika kata-kata itu berpotensi merendahkan, menyudutkan, atau mengarah pada body shaming, lebih baik tidak ikut mempopulerkannya.
Jadi, tetap boleh kok jadi anak internet yang update. Tapi akan jauh lebih keren kalau kamu juga jadi pengguna yang bijak—tahu batas, tahu etika, dan paham kapan sebuah “candaan” sebenarnya sudah kelewatan.***












